Showing posts with label ARCH. Show all posts
Showing posts with label ARCH. Show all posts

Konservasi Arsitektur





BAB III
GAMBARAN KAWASAN

Setu Babakan atau Danau Babakan terletak di Srengseng Sawah, kecamatan Jagakarsa,  Jakarta Selatan, Indonesia dekat Depok yang berfungsi sebagai pusat Perkampungan Budaya Betawi, suatu area yang dijaga untuk menjaga warisan budaya Jakarta, yaitu budaya asli Betawi.  Situ Babakan merupakan danau buatan dengan area 30 hektare (79 akre) dengan kedalaman 1-5 meter dimana airnya berasal dari Sungai Ciliwung dan saat ini digunakan sebagai tempat wisata alternatif, bagi warga dan para pengunjung.

Perkampungan Setu Babakan adalah sebuah kawasan pedesaan yang lingkungan alam dan  budayanya yang masih terjaga secara baik. Wisatawan yang berkunjung ke kawasan cagar budaya ini akan disuguhi panorama pepohonan rindang yang akan menambah suasana sejuk dan tenang ketika memasukinya. Di kanan kiri jalan utama, pengunjung juga dapat melihat rumah-rumah panggung berarsitektur khas Betawi yang masih dipertahankan keasliannya.
Kawasan wisata Setu Babakan juga berfungsi sebagai ‘paru-paru’ hijau kota Jakarta khususnya Jakarta Selatan. Tempat ini berfungsi sebagai penyangga kawasan hijau penyeimbang polusi udara Jakarta. Danau luas yang menampung aliran air dari sungai Ciliwung, juga berfungsi sebagai sumber air resapan kawasan sekitarnya. Danau Setu Babakan juga merupakan tempat untuk rekreasi air seperti bermain perahu air – bebek kayuh, Perahu naga dengan penumpang beregu, menyaksikan penduduk menjala ikan di pagi hari, dan areal pemancingan baik yang menghadap danau atau empang-empang sewaan disekitar danau. Lahan luas hijau adalah area bagi yang menyukai aktifitas olah raga pagi, jalan kaki, lari, bersepeda, atau senam gerak badan. Jalur trek yang mengitari danau luas adalah rute nyaman sepanjang mata memandang.

Taman disekitar danau ditanami dengan beragam pohon buah-buahan yaitu Mangga, Palem, Melinjo, Rambutan, Jambu, Pandan, Kecapi, Jamblang, Krendang, Guni, Nangka Cimpedak, Nam-nam, Jengkol, dsb.Banyak kuliner khas Betawi terdapat disini areal wisata Setu Babakan, antara lain Kerak Telor, Toge Goreng, Arum Manis, Rujak Bebek, Soto Betawi, Es Potong, Es Duren, Bir Pletok, Nasi Uduk, Nasi Ulam, dll. dijajakan disana.

Siteplan Kawasan Setu Babakan

Wisata kampoeng budaya yang disajikan antara lain arsitektur rumah khas Betawi yang dibagi menjadi 3 macam, pertama rumah Betawi gudang atau kandang, kedua rumah Betawi Kebaya atau Bapang, dan yang ketiga adalah rumah Joglo, bangunan masjid dan rumah-rumah kampung.




Suasana Setu Babakan


Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan menawarkan tiga paket wisata, yakni wisata budaya, wisata agro dan wisata air. Melalui wisata budaya, pengunjung bisa menikmati pagelaran seni baik itu musik, tarian maupun teater pada setiap minggu. Atraksi upacara maupun prosesi budaya seperti upacara pernikahan, sunatan, akekah, hatam quran, nujuh bulan dan lainnya juga dapat disaksikan dibulan-bulan tertentu ataupun pada saat festival Setu Babakan yang biasanya diselenggarakan pada bulan Agustus.

Wisata Agro, pengunjung bisa menikmati buah-buahan khas Betawi yang ditanam di pekarangan rumah warga sekitar Setu Babakan. Untuk wisata air pihak pengelola menyediakan sepeda air, perahu dan tempat pemancingan. Selain itu, di lokasi ini dapat ditemui para penjual makanan khas betawi yang jarang ditemui di tempat lain di Jakarta.

Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan sebagai perkampungan budaya maupun objek wisata belum bisa dibilang ideal. Banyak faktor yang kurang dalam pengembangannya. kurangnya media informasi kawasan, pengembangan sarana dan prasarana pendukung yang belum optimal menjadi masalah dalam pengembangan kawasan ini.

Peranan pengelola dan pihak terkait dalam pengembangan kawasan ini sangat dibutuhkan sehingga permasalahan yang terjadi dapat teratasi. Sehingga apa yang di cita-citakan semua pihak terhadap kawasan ini dapat tercapai.

Langgam Arsitektur Betawi
Rumah tradisional Betawi memperlihatkan pengaruh arsitektur luar, seperti Eropa, Cina, dan Arab. Hal ini terlihat dari bentuk pintu, jendela, lubang angin, dan ornamen lain. Rumah adat / Rumah Tradisional Betawi pada umumnya terbuat dari kayu dan bambu mulai struktur rangka sampai keseluruhan bangunan kecuali atab dan lantai.


Rumah Adat Betawi

Secara umum rumah Betawi memiliki serambi pada bagian depan tanpa dinding alias terbuka dan mempunyai sebutan langkan. Pada serambi biasanya terdapat bale tempat santai penghuni rumah, Material kayu yang di gunakan untuk membangun rumah tradisional Betawi biasanya menggunakan kayu sawo, kayu kecapi, bambu, ijuk, rumbia, genteng, kapur, pasir, semen, ter, plitur, dan batu untuk pondasi tiang. Dan bagian dinding mengunakan papan terbuat dari kayu nangka atau anyaman bambu atau biasa di sebut gedek

Di sisi lain, tata ruang rumah Betawi juga mirip dengan rumah modern, yakni memiliki ruang publik, ruang privat, dan area servis. Dalam rumah Betawi, kawasan publik berada di teras depan (disebut amben); ruang pribadi ada di tengah, dimana di dalamnya terdapat kamar (disebut pangkeng); sementara ruang servis atau dapur disebut srondoyan.

BAB IV
USULAN PENANGANAN PELESTARIAN

Kegiatan Konservasi yang dilakukan di Setu Babakan meliputi pengelolaan kawasan, dimana fokus usaha yang dilakukan meliputi penataan baik dari pengelolaan pengunjung, penataan bangunan hingga infrastruktur di dalamnya.
Di kawasan Setu Babakan ini memiliki luas area yang sangat besar, sehingga untuk lebih memudahkan area pengamatan dibagi menjadi 4 zona, yaitu ;



 Pembagian Zona

Keterangan dan Penjelasan :
Zona 1 : Biru, Zona 2 : orange, Zona 3 : hijau, dan Zona 4 : Kuning.
Zona 1 ; yang saat ini sedang dilaksanakan oleh pemerintah sebagai pusat kebudayaan betawi, yang berisi pusat replika pemukiman rumah budaya betawi.


Rancangan Zona 1 Oleh Pemerintah DKI

Pada kawasan ini pelaksanaan pembangunan baru mencapai 20% dari total site yang akan terbangun karena kendalanya masih ada lahan yang belum terbebas.
Gambaran rancangan ini akan dibuatnya sebuah entrance atau pusat informasi kawasan budaya dengan pintu akses utama melalu jalan Moch. Kahfi II, terdapat pula sebuah wisma / penginapan bagi para pengunjung atau orang yang ingin belajar mengenai budaya bertawi lebih dalam. Untuk menunjang semuanya dan agar budaya betawi tidak punah maka akan di bangun sebuah bangunan sebagai tempat pelatihan seni budaya dan pusat pendidikan.


Kesenian Tari dan Boneka Budaya Betawi

Zona 2 ; pada kawasan di zona 2 ini di rancang sebuah kawasan perkampungan budaya betawi yang kini sudah ada di zona 2 dan lebih di perbaiki dengan permukiman deret yang mengusung konsep rumah tradisional betawi agar lebih indah dan nnyaman bila berada di lingkungan situ babakan ini.



 Kawasan Zona 2

Pada zona 2 terdapat 3 kawasan yang berbeda dan saling menyatu satu sama lain yaitu :

Warna hijau menunjukan kawasan perkampungan betawi yang kini sudah ada yang berfungsi sebagai tempat bersosial masyarakat kampung babakan dan sebagai tempat berkumpulnya masyarakat sekitar, juga tempat mengadakan acara-acara seni betawi seperti lenong dll.



 Pertunjukan Lenong di Kawasan PBB

Warna ungu menunjukan lokasi wisata kuliner yang menjadi satu dengan tempat pemancingan agar masyarakat sekitar tidak memancing di kawasan situ. Dan pada lokasi ini juga di baut taman bermain anak.


 Desain Pemancingan dan Wisata Kuliner

Warna merah menunjukan kawasan rumah / permukiman rumah deret dan memiliki kesamaan bentuk dengan mengusung konsep perumahan betawi modern. Dengan vie mengarah ke arah situ babakan.


 Desain Perkampungan Deret Di Sekitar Pinggiran Situ Babakan

Zona 3 : pada zona tiga ini saat ini terdapat sebuah pemancingan masyarakat dan rumah juga kios wisata kuliner masyarakat. Tidak berbeda jauh design pada zona 3 ini di bagi menjadi 3 kawasan yaitu kawasan kuliner dan kawasan perumahan deret betawi.

Zona 4 : seperti yang di sudah di rancang oleh pemerintah DKI Jakarta seperti di bawah ini,





 Kawasan Zona 4

 Pada rancangan di zona 4 terdapat 3 kawasan yaitu kawasan studio alam, plaza dan resort.
Studio alam ini berfungsi sebagai tempat home industri dll.


Desain Perumahan Betawi Modern Pada Studio Alam

Pada kawasan ini sama seperti pada zona 1 dan gabungan dengan zona 2.
Plaza yang di fungsikan sebagai tempak bersosialisasi / berkumpul dan mnyatukan/menghubungkan dari zona 1 sampai 4.


Desain Dermaga

Resort yang difugnsikan sebagai wilayah komersil /penginapan bagi pengunjung domestik maupun turis.


 Desain Resort

Pembagian lokasi menjadi 4 zona juga harus di sesuaikan dengan lokasi sekelilingnya. Penggunaan konsep pendestrian oriented agar tidak tejadi kerusakan yang berkepanjangan juga membuat pengunjung merasa nyaman.


 Desain Pedestrian Oriented Pada Keliling Situ

Pedestrian pada bagian barat dan timur tidak jauh berbeda adanya tempat berjalan manusia dan jalur sepeda.


 Desain Pedestrian Oriented Pada Keliling Situ


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Tema di kawasan situ babakan sangat mendukung terciptanya suatu keunikan tersendiri sehingga mengundang banyak pengunjung dan sebagai daya tarik agar membuat pengunjung untuk kembali lagi ke situ babakan.
 Untuk mengembangkan kawasan situ babakan perlu adanya musyawarah terbuka dengan masyarakat untuk meningkatkan kesan publik sesuai dengan fungsinya yaitu untuk publik siapapun dapat berkunjung.
 Pengembangan harus tetap memperhatikan lingkungan sekitar situ juga situ babakan itu sendiri.
kawasan Setu babakan harus di lindungi, di pelihara dan termasuk daerah yang harus di Konservasi. Karena menyimpan banyak potensi mulai dari potensi pariwisata, kebudayaan, arsitektur dan lainnya. Semakin banyak bangunan, kawasan yang di konservasi semakin baik karena menyimpan nilai kebudayaan yang sangat kental dan itu merupakan ciri khas atau identitas setiap daerah.
Konservasi bangunan namun tidak diiringi dengan antusiasme masyarakat lokal dalam menghidupkan kembali kawasan setu babakan merupakan tindakan besar namun tanpa hasil. Meramaikan kembali kawasan setu babakan yang ada merupakan salah satu tindakan pelestarian, ada banyak cara yang dapat dilakukan salah satunya dengan kekuatan media sosial dan media seperti billboard dalam mempromosikan setu babakan. Alternatif lainnya juga bisa dengan melakukan kegiatan seperti public event atau acara-acara yang menarik masyarakat luas.

5.2 Saran
1.      untuk meningkatkan daya Tarik pengunjung dapat dilakukan dengan mengadakan banyak acara tradisionanl khas betawi.
2.      pengelola lingkungan sangat dibutuhkan setelah proses perancangan.
perlu diperketat peraturan dan pengawasan zoning lahan, agar pembangunan kota di sekitar kawasan tidak berbenturan dan merusak tatanan Cagar Budaya


Read more »

Konservasi Arsitektur


BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
Setu Babakan atau Danau Babakan terletak di Srengseng Sawah, kecamatan Jagakarsa, Kotamadya Jakarta Selatan, Indonesia. Terletak di dekat Depok yang berfungsi sebagai pusat Perkampungan Suku Betawi, suatu area yang diperuntukkan untuk pelestarian warisan budaya Jakarta, yaitu budaya asli Betawi. Situ Babakan merupakan danau buatan dengan area 30 hektar (79 akre) dengan kedalaman 1-5 meter dimana airnya berasal dari Sungai Ciliwung dan saat ini digunakan sebagai tempat wisata alternatif, bagi warga dan para pengunjung. Taman disekitarnya ditanami dengan beragam pohon buah-buahan yaitu Mangga, Palem, Melinjo, Rambutan, Jambu, Pandan, Kecapi, Jamblang, Krendang, Guni, Nangka Cimpedak, Nam-nam, dan Jengkol. 
Mayoritas penduduk di Setu Babakan adalah Betawi, dengan program dari pemda DKI untuk memperbaiki sarana dan prasarana yang ada untuk mengakomodasi kebutuhan ruang terbuka hijau, serta area untuk resapan air, setu babakan berbenah diri dengan dukungan penuh dari pemda DKI. Fungsi dari Setu ini bukan hanya untuk tempat melestarikan kebudayaan betawi yang makin tergerus oleh jaman, tapi digunakan juga sebagai tempat alternatif rekreasi yang berlokasi di selatan jakarta. selain fungsi utamanya sebagai penampung air resapan untuk selatan jakarta.
Penetapan Setu-Babakan sebagai kawasan Cagar Budaya Betawi sebenarnya sudah direncanakan sejak tahun 1996. Sebelum itu, Pemerintah DKI Jakarta juga pernah berencana menetapkan kawasan Condet, Jakarta Timur, sebagai Cagar Budaya Betawi, namun urung (batal) dilakukan karena seiring perjalanan waktu perkampungan tersebut semakin luntur dari nuansa budaya Betawi-nya. Dari pengalaman ini, Pemerintah DKI Jakarta kemudian merencanakan kawasan baru sebagai pengganti kawasan yang sudah direncanakan tersebut. Melalui SK Gubernur No. 9 tahun 2000 dipilihlah perkampungan Setu Babakan sebagai kawasan Cagar Budaya Betawi.
1.2    Permasalahan
     Di kawasan setubabakan, terdapat beberapa bangunan yang digunakan untuk memenuhi fungsi utama dalam pembentukan pelestarian kawasan perkampungan budaya betawi. Bangunan tersebut dibuat dengan bertujuan dapat mengenalkan budaya betawi ke masyarakat umum yang ingin mngetehaui budaya betawi itu sendiri ada berbagai macam ragam dan ciri ke-aktifitasannya. Namun, kenyataannya adalah, kawasan hunian tersebut tidak ada pendekatan budaya betawi dari segi bangunan dan tata ruangnya, dan kondisi dalam tapak yang diolah terlihat hanya kawasan cagar bangunan saja yang mengikuti morfologi budaya betawi.
1.3      Telaah Pustaka
Judul                : Identifikasi Pola Permukiman Tradisional Kampung Budaya Betawi Setu Babakan, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Kota Administrasi Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta
Jurnal               : Jurnal Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas   Udayana
Penulis             : Muhammad Syaiful Moechtar, Sang Made Sarwadana, Cokorda Gede Alit Semarajaya
Pembahasan     : Identifikasi polah tingkah laku warga betawi di setubabakan
Lokasi              : setubabakan, Jakarta
Permasalahan   : Warga Setubabakan yang terebar luas
Metode            : Observasi
Teori                : Kevin Lynch
Hasil                : Penataan Ruang Setubabakan





















Read more »

HUKUM PRANATA - UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO.4 TAHUN 1992


https://www.youtube.com/watch?v=Gprs951bzPc


Nabilla Asadriana (24315891)
  3TB03 
Read more »

Kota Berwawasan Lingkungan



Pembangunan yang berwawasan lingkungan adalah upaya sadar dan berencana menggunakan dan mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan yang terencana dan berkesinambungan untuk meningkatkan mutu hidup. Terlaksananya pembangunan berwawasan lingkungan dan terkendalinya pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana merupakan tujuan utama pengelolaan lingkungan hidup.

Pembangunan yang berwawasan lingkungan atau pembangunan berkelanjutan memiliki ciri-ciri tertentu, yaitu adanya saling keterkaitan beberapa sektor, antara lain lingkungan dan masyarakat serta kemanfaatan dan pembangunan. Pembangunan akan selalu berkaitan dan saling berinteraksi dengan lingkungan hidup. Interaksi tersebut dapat bersifat positif atau negatif. Pengetahuan dan informasi tentang berbagai interaksi tersebut sangat diperlukan dalam pembangunan berwawasan lingkungan.

Adapun ciri-ciri pembangunan berwawasan lingkungan antara lain :
  1. Menjamin pemerataan dan keadilan.
  2. Menghargai keanekaragaman hayati.
  3. Menggunakan pendekatan integratif.
  4. Menggunakan pandangan jangka panjang.
Pola pembangunan perkotaan yang berwawasan lingkungan ialah konsep yang harus ditempuh melalui proses jangka panjang. Sebab kota merupakan arena kegiatan manusia yang serba kompleks melibatkan berbagai aspek ativitas. Baik aspek manusianya, sumber daya alam dan buatan manusia. Oleh karenanya, pembangunan perkotaan dampak lingkungan yang ditimbulkan merusak ekosistem perkotaan.
Seperti disebutkan dalam UULH pasal 1 angka 13 (Jayadinata 1992 lampiran 6) menyebutkan “Pembangunan berwawasan lingkungan adalah upaya sadar dan berencana menggunakan dan mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan yang berkesinambungan untuk meningkatkan mutu hidup”. Kalau uraian tersebut dianalisis lebih jauh tentang konsep pembangunan yang berwawasan lingkungan, ada beberapa cerita yang perlu diberi penekanan yang lebih mendalam, yaitu:

1.          Konsep Usaha Sadar
2.          Bijaksana dan Berencana
3.          Pembangunan yang Berkesinambungan 
4.          Meningkatkan Mutu Hidup

Metode dan teknik perencanaan lingkungan

Metode yang dugunakan dalam perencanaan lingkungan pada dasarnya tidak berbeda dengan metode yang digunakan pada perencanaan yang lain. Pokok-pokok yang menjadi fokus analisis dalam perencanaan akan muncul pada seluruh tahapan proyek dan bervariasi menurut tingkatan kerumitannya.
Pada tahap awal suatu proyek titik perhatiannya adalah pengumpulan dan pengelompokan data. Di balik inventarisasi data adalah mempelajari semua hal tentang karakter lokasi proyek dan lingkungannya. Pendekatan ini pada umumnya mencakup pemeriksaan lapangan. Setelah itu, disertai usaha untuk mendapatkan ukuran lapangan. Data tersebut diperoleh dari data sekunder, seperti peta topografi, peta tanah, keadaan cuaca.
Pada tahap awal, biasanya berkaitan dengan persoalan rekayasa, keamanan dan kesehatan yang diketahui atau diharapkan. Selanjutnya proses tersebut akan menjadi lebih analitis, karena pokok persoalan yang muncul berkaitan dengan pengujian prosedur perencanaan dan desain. Pendekatan yang digunakan memang bervariasi.
Penarikan kesimpulan dari prosedur pengumpulan data, pengukuran deskriptif dan pengukuran analisis dihadapkan pada tugas untuk mengintegrasikan berbagai macam kesimpulan menurut cara bermanfaat bagi proses pengambilan keputusan.

Contoh kota berwawasan lingkungan

BOGOR

Didalam rencana Detail Tata Ruang (RDTR), umumnya setiap kecamatan telah mempunyai arahan tentang besaran Koefisien Dasar Bangunan (KDB), Koefisien Lantai Bangunan (KLB) dan Ketinggian Maksimum Bangunan. Untuk lebih mengarahkan pembangunan agar tetap berwawasan lingkungan, maka perlu pengaturan Koefisien Dasar Hijau (KDH). Pengaturan KDH adalah untuk mengendalikan pembangunan pada lahan private dan arahan ini dimaksudkan agar kota tetap mencerminkan karakter alamnya (basic landscape unit).
Didalam pengaturan Koefisien Dasar Hijau yang bersifat pembangunan privat ini, arahan untuk setiap kecamatan biasanya dibagi menjadi beberapa jenis peruntukan, yaitu: Kavling Rumah Tinggal; Kawasan Perumahan; Kawasan Perdagangan, Jasa dan Komersial; Kavling Industri dan Kawasan Industri.
Untuk mencapai pembangunan kota yang berwawasan lingkungan maka diperlukan rencana pembangunan ruang terbuka hijau kota yang terpadu dan terintegrasi dengan rencana tata ruang kota yang ada. Rencana pembangunan RTH didasarkan pada klasifikasi dan jenis RTH kota yang telah ditetapkan. Disamping itu untuk besaran atau luasan rencana pembangunan RTH untuk masing-masing jenis RTH perlu di diketahui juga kondisi eksisting masing-masing jenis RTH yang ada pada saat ini.
Sebagai contoh, kota Bogor saat ini telah memiliki RTH Kebun Raya dengan luas 72,12 Ha (0,61%), dalam rencana pembangunan RTH tidak ada penambahan luasan, sehingga untuk Kebun Raya luasan RTHnya tetap. Demikian pula Hutan Kota yang ada tidak ada penambahan luasan, tetapi perlu peningkatan kualitas RTHnya. Sedangkan untuk Jalur Hijau Jalan, saat ini luasan hijaunya 138,30 Ha (1,17%) dalam rencana sampai tahun 2025 ditargetkan menjadi 699,42 Ha (5,90%).
Demikian pula Jalur Hijau SUTT kondisi saat ini luasan yang ada 14,36 Ha (0,12%) dalam rencana pembangunan RTH ditargetkan menjadi 249,43 Ha (2,10%). Untuk meningkatkan kualitas visual maupun ekologi kota maka perlu penambahan luasan RTH Pertamanan Kota Bogor, yang semula 89,86 Ha (1,29%) menjadi 242,93 Ha (2,05%).
Jalur hijau sungai yang seharusnya menjadi kawasan lindung saat ini telah banyak diokupasi menjadi pemukiman dan fungsi bangunan lainnya. Oleh karena itu didalam pembangunan RTH perlu mengembalikan fungsi jalur hijau sungai sebagai daerah alami untuk mendukung ekosistem kota. Luasan jalur hijau sungai yang saat ini 181,79 Ha (1,53%) dalam rencana ditargetkan menjadi 832,46 Ha (7,02%).
Ruang terbuka hijau yang akan banyak berkurang karena adanya pembangunan kota adalah Kawasan Hijau Kota, yang saat ini masih berupa tegalan, kebun dan bentuk pertanian kota lainnya.
Kawasan hijau kota sebagian besar dimiliki oleh masyarakat dan swasta. Perubahan kawasan hijau kota menjadi kawasan terbangun tetap harus dikendalikan agar target RTH kota tetap dapat tercapai. Pengendalian RTH kota diatur dalam Peraturan Pemerintah Daerah dengan menerapkan besaran Koefisien Dasar Hijau (KDH) dalam memperoleh Ijin Membangun Bangunan (IMB).



Sumber:
http://trtb.pemkomedan.go.id/artikel-913-konsep-pembangunan-kota-berwawasan-lingkungan-.html


Read more »

Arsitektur Ramah Lingkungan



Arsitektur ramah lingkungan, yang juga merupakan arsitektur hijau, mencakup keselarasan antara manusia dan lingkungan alamnya. Arsitektur hijau mengandung juga dimensi lain seperti waktu, lingkungan alam, sosio-kultural, ruang, serta teknik bangunan. Hal ini menunjukkan bahwa arsitektur hijau bersifat kompleks, padat dan vital dibanding dengan arsitektur pada umumnya.

Green architecture atau Arsitektur hijau didefinisikan sebagai sebuah istilah yang menggambarkan tentang ekonomi, hemat energi, ramah lingkungan, dan dapat dikembangkan menjadi pembangunan berkesinambungan.

Konsep bangunan ramah lingkungan, membatasi lahan terbangun, layout sederhana, ruang mengalir, kualitas bangunan bermutu, efisiensi bahan, dan material ramah lingkungan. Atap-atap bangunan dikembangkan menjadi taman atap (roof garden, green roof) yang memiliki nilai ekologis tinggi (suhu udara turun, pencemaran berkurang, ruang hijau bertambah).
Pemanfaatan material bekas atau sisa untuk bahan renovasi bangunan juga dapat menghasilkan bangunan yang indah dan fungsional. Kusen, daun pintu atau jendela, kaca, teraso, hingga tangga dan pagar besi bekas masih bisa dirapikan, diberi sentuhan baru, dan dipakai ulang yang dapat memberikan suasana baru pada bangunan. Lebih murah dan tetap kuat.

Material ramah lingkungan memiliki kriteria sebagai berikut;

1.       Tidak beracun, sebelum maupun sesudah digunakan
2.       Dalam proses pembuatannya tidak memproduksi zat-zat berbahaya bagi lingkungan
3.       Dapat menghubungkan kita dengan alam, dalam arti kita makin dekat dengan alam karena kesan alami dari material tersebut (misalnya bata mengingatkan kita pada tanah, kayu pada pepohonan)
4.       Bisa didapatkan dengan mudah dan dekat (tidak memerlukan ongkos atau proses memindahkan yang besar, karena menghemat energi bbm untuk memindahkan material tersebut ke lokasi pembangunan)
5.      Bahan material yang dapat terurai dengan mudah secara alami

Contoh material ramah lingkungan

1.      Batu bata
2.      Semen
3.      Batu alam
4.      Keramik lokal
5.      Kayu

Contoh bangunan ramah lingkungan

Perpustakaan UI

Lokasi                   : Universitas Indonesia
Luas bangunan      : 30.000m2 atau 3 hektar
Jumlah lantai          : 8 lantai

Proyek ini merupakan pengembangan dari perpustakaan pusat yang dibangun pada tahun 1986-1987, didanai oleh pemerintah dan industri dengan anggaran sekitar Rp100 miliar, yang dibangun diarea seluas 3 hektar dengan 8 lantai, yang dirancang berdiri di atas lanskap bukit buatan dan terletak di depan Danau Kenanga yang ditumbuhi pepohonan besar berusia 30 tahun akan menambah keindahan bagi perpustakaan tersebut sehingga akan tercipta suasana yang lebih nyaman.
Bangunan perpustakaan yang akan menjadi iconic atau landmark ini, mempunyai konsep sustanable building yang ramah lingkungan (eco friendly), bahwa kebutuhan energi menggunakan sumber energi terbarukan, yakni energi matahari (solar energy), maka nantinya di dalam gedung tidak diperbolehkan menggunakan plastik dalam bentuk apa pun. Nanti semua kebutuhan plastik akan diganti dengan kertas atau bahan lain. Bangunan ini juga didesain bebas asap rokok, hemat listrik, air dan kertas.
Perpustakaan ini mampu menampung sekitar 10.000 orang pengunjung dalam waktu bersamaan atau sekitar 20.000 orang per hari. Koleksi buku di dalamnya akan menampung 3-5 juta judul buku. Sistem IT mutakhir juga akan melengkapi perpustakaan tersebut sehingga memungkinkan pengunjung leluasa menikmati sumber informasi elektronik seperti e-book, e-journal dan lain-lain.
Konstruksi
  • Model bangunan menghadirkan bangunan masa depan dengan mengambil sisi danau sebagai orientasi perancangan. Penggunaan bukit buatan sebagai potensi pemanfaatan atap untuk fungsi penghijauan. Sedangkan pencahayaan alam dilakukan melalui beberapa skylight.
  • Di balik gundukan rerumputan hijau terdapat 5 bangunan tinggi yang menjulang hingga beberapa ratus meter berisikan ruangan-ruangan kosong yang disiapkan sebagai ruang utama perpustakaan UI.
  • Di punggung bukit bangunan di timbun tanah dan ditanami rerumputan yang berguna sebagai pendingin suhu ruangan yang ada didalamnya, hingga dapat mereduksi fungsi alat pendingin udara sampai 15 persen.
  • Di antara punggung rerumputan itu terdapat jaringan-jaringan selokan yang di sampingnya terdapat kaca tebal bening selebar 50 sentimeter. Selokan itu untuk mengalirkan air hujan ke tanah resapan, sedangkan fungsi kaca sebagai sistem pencahayaan.
  • Interior bangunannya didesain terbuka dan menyambung antara satu ruang dan ruang yang lain melalui sistem void. Dengan begitu, penggunaan sirkulasi udara alam menjadi maksimal.
  • Penggunaan energi matahari dilakukan melalui solar cell yang dipasang di atap bangunan.
  • Guna memenuhi standar ramah lingkungan, bangunan juga dilengkapi sistem pengolahan limbah. Karena itu, air buangan toilet dapat digunakan untuk menyiram di punggung bangunan. Dengan diproses terlebih dahulu melalui pengolahan limbah atau sewage treatment plant (STP).
  • Terdiri delapan lantai,
    • Lantai dasar berisi pusat kegiatan dan bisnis mahasiswa yang terdiri toko buku, toko cenderamata, ruang internet, serta ruang musik dan TV. Ada juga restoran dan kafe, pusat kebugaran, ruang pertemuan, ruang pameran, dan bank.
    • Lantai 2 hingga 6 akan dilengkapi fasilitas seperti ruang tamu, ruang pelayanan umum dan koleksi, ruang baca, ruang teknologi informasi, serta unit pelayanan teknis.
    • Sedangkan di lantai 7 terdapat ruang sidang dan ruang diskusi. Gedung perpustakaan juga dilengkapi plaza dan ruang pertemuan yang menjorok ke danau.
  • Gedung akan menggunakan panel surya sebagai sumber energinya.
  • Keunikan yang lain, nanti akan terdapat berbagai huruf aksara dari seluruh dunia yang akan ditulis di kaca gedung sebagai dinding.
Finishing Bahan Bangunan
  • Interior menggunakan batu paliman palemo.
  • Eksterior bangunan tersebut menggunakan batu alam andesit.
Bahan bangunan dari batuan ini (batu alam andesit untuk eksterior dan batu paliman palemo untuk interior) bersifat bebas pemeliharaan (maintenance free) dan tidak perlu dicat. Batuan ini diperoleh dari Sukabumi.
Untuk melengkapi desain ramah lingkungan, sejumlah pohon besar berusia 30 tahunan berdiameter lebih dari 100 sentimeter sengaja tidak ditebang saat pembangunan gedung itu. Keindahan menjadi lengkap karena gedung itu mengeksplorasi secara maksimal keindahan tepi danau yang asri, sejuk, dan, teduh.

Sumber:



Read more »
Powered by Blogger.

Total Pageviews

Followers