Showing posts with label ARCH. Show all posts
Showing posts with label ARCH. Show all posts
Konservasi Arsitektur
BAB
III
GAMBARAN
KAWASAN
Setu
Babakan atau Danau Babakan terletak di Srengseng Sawah, kecamatan
Jagakarsa, Jakarta Selatan, Indonesia dekat Depok yang berfungsi sebagai
pusat Perkampungan Budaya Betawi, suatu area yang dijaga untuk menjaga warisan
budaya Jakarta, yaitu budaya asli Betawi. Situ Babakan merupakan danau
buatan dengan area 30 hektare (79 akre) dengan kedalaman 1-5 meter dimana
airnya berasal dari Sungai Ciliwung dan saat ini digunakan sebagai tempat
wisata alternatif, bagi warga dan para pengunjung.
Perkampungan Setu Babakan adalah sebuah kawasan pedesaan yang lingkungan alam dan budayanya yang masih terjaga secara baik. Wisatawan yang berkunjung ke kawasan cagar budaya ini akan disuguhi panorama pepohonan rindang yang akan menambah suasana sejuk dan tenang ketika memasukinya. Di kanan kiri jalan utama, pengunjung juga dapat melihat rumah-rumah panggung berarsitektur khas Betawi yang masih dipertahankan keasliannya.
Perkampungan Setu Babakan adalah sebuah kawasan pedesaan yang lingkungan alam dan budayanya yang masih terjaga secara baik. Wisatawan yang berkunjung ke kawasan cagar budaya ini akan disuguhi panorama pepohonan rindang yang akan menambah suasana sejuk dan tenang ketika memasukinya. Di kanan kiri jalan utama, pengunjung juga dapat melihat rumah-rumah panggung berarsitektur khas Betawi yang masih dipertahankan keasliannya.
Kawasan
wisata Setu Babakan juga berfungsi sebagai ‘paru-paru’ hijau kota
Jakarta khususnya Jakarta Selatan. Tempat ini berfungsi sebagai penyangga
kawasan hijau penyeimbang polusi udara Jakarta. Danau luas yang menampung
aliran air dari sungai Ciliwung, juga berfungsi sebagai sumber air resapan
kawasan sekitarnya. Danau Setu Babakan juga merupakan tempat untuk rekreasi air
seperti bermain perahu air – bebek kayuh, Perahu naga dengan penumpang beregu,
menyaksikan penduduk menjala ikan di pagi hari, dan areal pemancingan baik yang
menghadap danau atau empang-empang sewaan disekitar danau. Lahan luas hijau adalah
area bagi yang menyukai aktifitas olah raga pagi, jalan kaki, lari, bersepeda,
atau senam gerak badan. Jalur trek yang mengitari danau luas adalah rute nyaman
sepanjang mata memandang.
Taman disekitar danau ditanami dengan beragam pohon buah-buahan yaitu Mangga, Palem, Melinjo, Rambutan, Jambu, Pandan, Kecapi, Jamblang, Krendang, Guni, Nangka Cimpedak, Nam-nam, Jengkol, dsb.Banyak kuliner khas Betawi terdapat disini areal wisata Setu Babakan, antara lain Kerak Telor, Toge Goreng, Arum Manis, Rujak Bebek, Soto Betawi, Es Potong, Es Duren, Bir Pletok, Nasi Uduk, Nasi Ulam, dll. dijajakan disana.
Taman disekitar danau ditanami dengan beragam pohon buah-buahan yaitu Mangga, Palem, Melinjo, Rambutan, Jambu, Pandan, Kecapi, Jamblang, Krendang, Guni, Nangka Cimpedak, Nam-nam, Jengkol, dsb.Banyak kuliner khas Betawi terdapat disini areal wisata Setu Babakan, antara lain Kerak Telor, Toge Goreng, Arum Manis, Rujak Bebek, Soto Betawi, Es Potong, Es Duren, Bir Pletok, Nasi Uduk, Nasi Ulam, dll. dijajakan disana.
Siteplan
Kawasan Setu Babakan
Wisata
kampoeng budaya yang disajikan antara lain arsitektur rumah khas Betawi yang
dibagi menjadi 3 macam, pertama rumah Betawi gudang atau kandang, kedua rumah
Betawi Kebaya atau Bapang, dan yang ketiga adalah rumah Joglo, bangunan masjid
dan rumah-rumah kampung.
Suasana
Setu Babakan
Perkampungan
Budaya Betawi Setu Babakan menawarkan tiga paket wisata, yakni wisata budaya,
wisata agro dan wisata air. Melalui wisata budaya, pengunjung bisa menikmati
pagelaran seni baik itu musik, tarian maupun teater pada setiap minggu. Atraksi
upacara maupun prosesi budaya seperti upacara pernikahan, sunatan, akekah,
hatam quran, nujuh bulan dan lainnya juga dapat disaksikan dibulan-bulan
tertentu ataupun pada saat festival Setu Babakan yang biasanya diselenggarakan
pada bulan Agustus.
Wisata
Agro, pengunjung bisa menikmati buah-buahan khas Betawi yang ditanam di
pekarangan rumah warga sekitar Setu Babakan. Untuk wisata air pihak pengelola
menyediakan sepeda air, perahu dan tempat pemancingan. Selain itu, di lokasi
ini dapat ditemui para penjual makanan khas betawi yang jarang ditemui di
tempat lain di Jakarta.
Perkampungan
Budaya Betawi Setu Babakan sebagai perkampungan budaya maupun objek wisata
belum bisa dibilang ideal. Banyak faktor yang kurang dalam pengembangannya.
kurangnya media informasi kawasan, pengembangan sarana dan prasarana pendukung
yang belum optimal menjadi masalah dalam pengembangan kawasan ini.
Peranan
pengelola dan pihak terkait dalam pengembangan kawasan ini sangat dibutuhkan
sehingga permasalahan yang terjadi dapat teratasi. Sehingga apa yang di
cita-citakan semua pihak terhadap kawasan ini dapat tercapai.
Langgam Arsitektur
Betawi
Rumah
tradisional Betawi memperlihatkan pengaruh arsitektur luar, seperti Eropa,
Cina, dan Arab. Hal ini terlihat dari bentuk pintu, jendela, lubang angin, dan
ornamen lain. Rumah adat / Rumah Tradisional Betawi pada umumnya terbuat dari
kayu dan bambu mulai struktur rangka sampai keseluruhan bangunan kecuali atab
dan lantai.
Rumah
Adat Betawi
Secara
umum rumah Betawi memiliki serambi pada bagian depan tanpa dinding alias
terbuka dan mempunyai sebutan langkan. Pada serambi biasanya terdapat bale
tempat santai penghuni rumah, Material kayu yang di gunakan untuk membangun
rumah tradisional Betawi biasanya menggunakan kayu sawo, kayu kecapi, bambu,
ijuk, rumbia, genteng, kapur, pasir, semen, ter, plitur, dan batu untuk pondasi
tiang. Dan bagian dinding mengunakan papan terbuat dari kayu nangka atau
anyaman bambu atau biasa di sebut gedek
Di
sisi lain, tata ruang rumah Betawi juga mirip dengan rumah modern, yakni
memiliki ruang publik, ruang privat, dan area servis. Dalam rumah Betawi,
kawasan publik berada di teras depan (disebut amben); ruang pribadi ada di
tengah, dimana di dalamnya terdapat kamar (disebut pangkeng); sementara ruang
servis atau dapur disebut srondoyan.
BAB
IV
USULAN
PENANGANAN PELESTARIAN
Kegiatan Konservasi yang dilakukan di Setu Babakan
meliputi pengelolaan kawasan, dimana fokus usaha yang dilakukan meliputi
penataan baik dari pengelolaan pengunjung, penataan bangunan hingga
infrastruktur di dalamnya.
Di kawasan Setu Babakan ini memiliki luas area yang
sangat besar, sehingga untuk lebih memudahkan area pengamatan dibagi
menjadi 4 zona, yaitu ;
Pembagian Zona
Keterangan dan Penjelasan :
Zona 1 : Biru, Zona 2 : orange, Zona 3 : hijau, dan
Zona 4 : Kuning.
Zona 1 ; yang saat ini sedang dilaksanakan oleh
pemerintah sebagai pusat kebudayaan betawi, yang berisi pusat replika pemukiman
rumah budaya betawi.
Rancangan Zona 1 Oleh Pemerintah DKI
Pada kawasan ini pelaksanaan pembangunan baru
mencapai 20% dari total site yang akan terbangun karena kendalanya masih ada
lahan yang belum terbebas.
Gambaran rancangan ini akan dibuatnya sebuah
entrance atau pusat informasi kawasan budaya dengan pintu akses utama melalu
jalan Moch. Kahfi II, terdapat pula sebuah wisma / penginapan bagi para
pengunjung atau orang yang ingin belajar mengenai budaya bertawi lebih dalam.
Untuk menunjang semuanya dan agar budaya betawi tidak punah maka akan di bangun
sebuah bangunan sebagai tempat pelatihan seni budaya dan pusat pendidikan.
Kesenian Tari dan Boneka Budaya Betawi
Zona 2 ; pada kawasan di zona 2 ini di rancang
sebuah kawasan perkampungan budaya betawi yang kini sudah ada di zona 2 dan
lebih di perbaiki dengan permukiman deret yang mengusung konsep rumah
tradisional betawi agar lebih indah dan nnyaman bila berada di lingkungan situ
babakan ini.
Kawasan Zona 2
Pada zona 2 terdapat 3 kawasan yang berbeda dan
saling menyatu satu sama lain yaitu :
Warna hijau menunjukan kawasan perkampungan betawi
yang kini sudah ada yang berfungsi sebagai tempat bersosial masyarakat kampung
babakan dan sebagai tempat berkumpulnya masyarakat sekitar, juga tempat
mengadakan acara-acara seni betawi seperti lenong dll.
Pertunjukan Lenong di Kawasan PBB
Warna ungu menunjukan lokasi wisata kuliner yang
menjadi satu dengan tempat pemancingan agar masyarakat sekitar tidak memancing
di kawasan situ. Dan pada lokasi ini juga di baut taman bermain anak.
Desain Pemancingan dan Wisata Kuliner
Warna merah menunjukan kawasan rumah / permukiman
rumah deret dan memiliki kesamaan bentuk dengan mengusung konsep perumahan
betawi modern. Dengan vie mengarah ke arah situ babakan.
Desain Perkampungan Deret Di Sekitar Pinggiran Situ Babakan
Zona 3 : pada zona tiga ini saat ini terdapat sebuah
pemancingan masyarakat dan rumah juga kios wisata kuliner masyarakat. Tidak
berbeda jauh design pada zona 3 ini di bagi menjadi 3 kawasan yaitu kawasan
kuliner dan kawasan perumahan deret betawi.
Zona 4 : seperti yang di sudah di rancang oleh
pemerintah DKI Jakarta seperti di bawah ini,
Kawasan Zona 4
Pada rancangan di zona 4 terdapat 3 kawasan
yaitu kawasan studio alam, plaza dan resort.
Studio alam ini berfungsi sebagai tempat home
industri dll.
Desain Perumahan Betawi Modern Pada Studio Alam
Pada kawasan ini sama seperti pada zona 1 dan
gabungan dengan zona 2.
Plaza yang di fungsikan sebagai tempak bersosialisasi
/ berkumpul dan mnyatukan/menghubungkan dari zona 1 sampai 4.
Desain Dermaga
Resort yang difugnsikan sebagai wilayah komersil
/penginapan bagi pengunjung domestik maupun turis.
Desain Resort
Pembagian lokasi menjadi 4 zona juga harus di
sesuaikan dengan lokasi sekelilingnya. Penggunaan konsep pendestrian oriented
agar tidak tejadi kerusakan yang berkepanjangan juga membuat pengunjung merasa
nyaman.
Desain Pedestrian Oriented Pada Keliling Situ
Pedestrian pada bagian barat dan timur tidak jauh
berbeda adanya tempat berjalan manusia dan jalur sepeda.
Desain Pedestrian Oriented Pada Keliling Situ
BAB
V
KESIMPULAN
DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Tema di kawasan situ
babakan sangat mendukung terciptanya suatu keunikan tersendiri sehingga
mengundang banyak pengunjung dan sebagai daya tarik agar membuat pengunjung
untuk kembali lagi ke situ babakan.
Untuk
mengembangkan kawasan situ babakan perlu adanya musyawarah terbuka dengan
masyarakat untuk meningkatkan kesan publik sesuai dengan fungsinya yaitu untuk
publik siapapun dapat berkunjung.
Pengembangan
harus tetap memperhatikan lingkungan sekitar situ juga situ babakan itu
sendiri.
kawasan Setu babakan
harus di lindungi, di pelihara dan termasuk daerah yang harus di Konservasi.
Karena menyimpan banyak potensi mulai dari potensi pariwisata, kebudayaan,
arsitektur dan lainnya. Semakin banyak bangunan, kawasan yang di konservasi
semakin baik karena menyimpan nilai kebudayaan yang sangat kental dan itu
merupakan ciri khas atau identitas setiap daerah.
Konservasi bangunan
namun tidak diiringi dengan antusiasme masyarakat lokal dalam menghidupkan
kembali kawasan setu babakan merupakan tindakan besar namun tanpa hasil.
Meramaikan kembali kawasan setu babakan yang ada merupakan salah satu tindakan
pelestarian, ada banyak cara yang dapat dilakukan salah satunya dengan kekuatan
media sosial dan media seperti billboard dalam mempromosikan setu
babakan. Alternatif lainnya juga bisa dengan melakukan kegiatan
seperti public event atau acara-acara yang menarik masyarakat luas.
5.2 Saran
1. untuk
meningkatkan daya Tarik pengunjung dapat dilakukan dengan mengadakan banyak
acara tradisionanl khas betawi.
2. pengelola
lingkungan sangat dibutuhkan setelah proses perancangan.
perlu diperketat peraturan dan pengawasan zoning lahan, agar
pembangunan kota di sekitar kawasan tidak berbenturan dan merusak tatanan Cagar
Budaya
7:34 AM | Labels: ARCH, Konvervasi | 0 Comments
Konservasi Arsitektur
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Setu Babakan
atau Danau Babakan terletak di
Srengseng Sawah, kecamatan Jagakarsa, Kotamadya Jakarta Selatan, Indonesia.
Terletak di dekat Depok yang berfungsi sebagai pusat Perkampungan Suku Betawi,
suatu area yang diperuntukkan untuk pelestarian warisan budaya Jakarta,
yaitu budaya asli Betawi. Situ Babakan merupakan danau buatan dengan area 30
hektar (79 akre) dengan kedalaman 1-5 meter dimana airnya berasal dari Sungai
Ciliwung dan saat ini digunakan sebagai tempat wisata alternatif,
bagi warga dan para pengunjung. Taman disekitarnya ditanami dengan beragam
pohon buah-buahan yaitu Mangga, Palem, Melinjo, Rambutan, Jambu, Pandan,
Kecapi, Jamblang, Krendang, Guni, Nangka Cimpedak, Nam-nam, dan Jengkol.
Mayoritas penduduk di Setu Babakan adalah Betawi, dengan program dari
pemda DKI untuk memperbaiki sarana dan prasarana yang ada untuk mengakomodasi
kebutuhan ruang terbuka hijau, serta area untuk resapan air, setu babakan
berbenah diri dengan dukungan penuh dari pemda DKI. Fungsi dari Setu ini
bukan hanya untuk tempat melestarikan kebudayaan betawi yang makin tergerus
oleh jaman, tapi digunakan juga sebagai tempat alternatif rekreasi yang
berlokasi di selatan jakarta. selain fungsi utamanya sebagai penampung air
resapan untuk selatan jakarta.
Penetapan Setu-Babakan
sebagai kawasan Cagar Budaya Betawi sebenarnya sudah direncanakan sejak tahun
1996. Sebelum itu, Pemerintah DKI Jakarta juga pernah berencana menetapkan
kawasan Condet, Jakarta Timur, sebagai Cagar Budaya Betawi, namun urung
(batal) dilakukan karena seiring perjalanan waktu perkampungan tersebut semakin
luntur dari nuansa budaya Betawi-nya. Dari pengalaman ini, Pemerintah DKI
Jakarta kemudian merencanakan kawasan baru sebagai pengganti kawasan yang sudah
direncanakan tersebut. Melalui SK Gubernur No. 9 tahun 2000 dipilihlah
perkampungan Setu Babakan sebagai kawasan Cagar Budaya Betawi.
1.2
Permasalahan
Di
kawasan setubabakan, terdapat beberapa bangunan yang digunakan untuk memenuhi
fungsi utama dalam pembentukan pelestarian kawasan perkampungan budaya betawi. Bangunan tersebut dibuat dengan
bertujuan dapat mengenalkan budaya betawi ke masyarakat umum yang ingin
mngetehaui budaya betawi itu sendiri ada berbagai macam ragam dan ciri
ke-aktifitasannya. Namun, kenyataannya adalah, kawasan hunian tersebut tidak
ada pendekatan budaya betawi dari segi bangunan dan tata ruangnya, dan kondisi
dalam tapak yang diolah terlihat hanya kawasan cagar bangunan saja yang
mengikuti morfologi budaya betawi.
1.3 Telaah Pustaka
Judul : Identifikasi
Pola Permukiman Tradisional Kampung
Budaya
Betawi Setu Babakan, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Kota
Administrasi Jakarta Selatan,
Provinsi DKI Jakarta
Jurnal :
Jurnal
Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana
Penulis :
Muhammad
Syaiful Moechtar, Sang Made Sarwadana, Cokorda Gede Alit Semarajaya
Pembahasan :
Identifikasi polah tingkah laku warga betawi di setubabakan
Lokasi :
setubabakan, Jakarta
Permasalahan :
Warga Setubabakan yang terebar luas
Metode :
Observasi
Teori :
Kevin Lynch
Hasil :
Penataan Ruang Setubabakan
5:10 PM | Labels: ARCH, Konvervasi | 0 Comments
HUKUM PRANATA - UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO.4 TAHUN 1992
10:27 AM | Labels: ARCH, HUKUM PRANATA | 0 Comments
Kota Berwawasan Lingkungan
Pembangunan yang berwawasan lingkungan adalah upaya sadar dan berencana menggunakan dan mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan yang terencana dan berkesinambungan untuk meningkatkan mutu hidup. Terlaksananya pembangunan berwawasan lingkungan dan terkendalinya pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana merupakan tujuan utama pengelolaan lingkungan hidup.
Pembangunan yang
berwawasan lingkungan atau pembangunan berkelanjutan memiliki ciri-ciri
tertentu, yaitu adanya saling keterkaitan beberapa sektor, antara lain
lingkungan dan masyarakat serta kemanfaatan dan pembangunan. Pembangunan akan
selalu berkaitan dan saling berinteraksi dengan lingkungan hidup. Interaksi
tersebut dapat bersifat positif atau negatif. Pengetahuan dan informasi tentang
berbagai interaksi tersebut sangat diperlukan dalam pembangunan berwawasan
lingkungan.
Adapun ciri-ciri pembangunan
berwawasan lingkungan antara lain :
- Menjamin pemerataan dan keadilan.
- Menghargai keanekaragaman hayati.
- Menggunakan pendekatan integratif.
- Menggunakan pandangan jangka panjang.
Pola pembangunan perkotaan yang berwawasan lingkungan ialah konsep
yang harus ditempuh melalui proses jangka panjang. Sebab kota merupakan arena
kegiatan manusia yang serba kompleks melibatkan berbagai aspek ativitas. Baik
aspek manusianya, sumber daya alam dan buatan manusia. Oleh karenanya,
pembangunan perkotaan dampak lingkungan yang ditimbulkan merusak ekosistem
perkotaan.
Seperti disebutkan dalam UULH pasal 1 angka 13 (Jayadinata 1992
lampiran 6) menyebutkan “Pembangunan berwawasan lingkungan adalah upaya sadar
dan berencana menggunakan dan mengelola sumber daya secara bijaksana dalam
pembangunan yang berkesinambungan untuk meningkatkan mutu hidup”. Kalau uraian
tersebut dianalisis lebih jauh tentang konsep pembangunan yang berwawasan
lingkungan, ada beberapa cerita yang perlu diberi penekanan yang lebih
mendalam, yaitu:
1.
Konsep Usaha Sadar
2.
Bijaksana dan Berencana
3.
Pembangunan yang Berkesinambungan
4.
Meningkatkan Mutu Hidup
Metode dan teknik perencanaan lingkungan
Metode yang dugunakan dalam perencanaan lingkungan pada dasarnya
tidak berbeda dengan metode yang digunakan pada perencanaan yang lain.
Pokok-pokok yang menjadi fokus analisis dalam perencanaan akan muncul pada
seluruh tahapan proyek dan bervariasi menurut tingkatan kerumitannya.
Pada tahap awal suatu proyek titik perhatiannya adalah pengumpulan
dan pengelompokan data. Di balik inventarisasi data adalah mempelajari semua
hal tentang karakter lokasi proyek dan lingkungannya. Pendekatan ini pada
umumnya mencakup pemeriksaan lapangan. Setelah itu, disertai usaha untuk
mendapatkan ukuran lapangan. Data tersebut diperoleh dari data sekunder,
seperti peta topografi, peta tanah, keadaan cuaca.
Pada tahap awal, biasanya berkaitan dengan persoalan rekayasa,
keamanan dan kesehatan yang diketahui atau diharapkan. Selanjutnya proses
tersebut akan menjadi lebih analitis, karena pokok persoalan yang muncul
berkaitan dengan pengujian prosedur perencanaan dan desain. Pendekatan yang
digunakan memang bervariasi.
Penarikan kesimpulan dari prosedur pengumpulan data, pengukuran
deskriptif dan pengukuran analisis dihadapkan pada tugas untuk mengintegrasikan
berbagai macam kesimpulan menurut cara bermanfaat bagi proses pengambilan keputusan.
Contoh kota berwawasan
lingkungan
BOGOR
Didalam rencana
Detail Tata Ruang (RDTR), umumnya setiap kecamatan telah mempunyai arahan
tentang besaran Koefisien Dasar Bangunan (KDB), Koefisien Lantai Bangunan (KLB)
dan Ketinggian Maksimum Bangunan. Untuk lebih mengarahkan pembangunan agar
tetap berwawasan lingkungan, maka perlu pengaturan Koefisien Dasar Hijau (KDH).
Pengaturan KDH adalah untuk mengendalikan pembangunan pada lahan private dan
arahan ini dimaksudkan agar kota tetap mencerminkan karakter alamnya (basic
landscape unit).
Didalam pengaturan Koefisien Dasar Hijau yang bersifat pembangunan privat ini, arahan untuk setiap kecamatan biasanya dibagi menjadi beberapa jenis peruntukan, yaitu: Kavling Rumah Tinggal; Kawasan Perumahan; Kawasan Perdagangan, Jasa dan Komersial; Kavling Industri dan Kawasan Industri.
Untuk mencapai pembangunan kota yang berwawasan lingkungan maka diperlukan rencana pembangunan ruang terbuka hijau kota yang terpadu dan terintegrasi dengan rencana tata ruang kota yang ada. Rencana pembangunan RTH didasarkan pada klasifikasi dan jenis RTH kota yang telah ditetapkan. Disamping itu untuk besaran atau luasan rencana pembangunan RTH untuk masing-masing jenis RTH perlu di diketahui juga kondisi eksisting masing-masing jenis RTH yang ada pada saat ini.
Sebagai contoh, kota Bogor saat ini telah memiliki RTH Kebun Raya dengan luas 72,12 Ha (0,61%), dalam rencana pembangunan RTH tidak ada penambahan luasan, sehingga untuk Kebun Raya luasan RTHnya tetap. Demikian pula Hutan Kota yang ada tidak ada penambahan luasan, tetapi perlu peningkatan kualitas RTHnya. Sedangkan untuk Jalur Hijau Jalan, saat ini luasan hijaunya 138,30 Ha (1,17%) dalam rencana sampai tahun 2025 ditargetkan menjadi 699,42 Ha (5,90%).
Demikian pula Jalur Hijau SUTT kondisi saat ini luasan yang ada 14,36 Ha (0,12%) dalam rencana pembangunan RTH ditargetkan menjadi 249,43 Ha (2,10%). Untuk meningkatkan kualitas visual maupun ekologi kota maka perlu penambahan luasan RTH Pertamanan Kota Bogor, yang semula 89,86 Ha (1,29%) menjadi 242,93 Ha (2,05%).
Jalur hijau sungai yang seharusnya menjadi kawasan lindung saat ini telah banyak diokupasi menjadi pemukiman dan fungsi bangunan lainnya. Oleh karena itu didalam pembangunan RTH perlu mengembalikan fungsi jalur hijau sungai sebagai daerah alami untuk mendukung ekosistem kota. Luasan jalur hijau sungai yang saat ini 181,79 Ha (1,53%) dalam rencana ditargetkan menjadi 832,46 Ha (7,02%).
Ruang terbuka hijau yang akan banyak berkurang karena adanya pembangunan kota adalah Kawasan Hijau Kota, yang saat ini masih berupa tegalan, kebun dan bentuk pertanian kota lainnya.
Kawasan hijau kota sebagian besar dimiliki oleh masyarakat dan swasta. Perubahan kawasan hijau kota menjadi kawasan terbangun tetap harus dikendalikan agar target RTH kota tetap dapat tercapai. Pengendalian RTH kota diatur dalam Peraturan Pemerintah Daerah dengan menerapkan besaran Koefisien Dasar Hijau (KDH) dalam memperoleh Ijin Membangun Bangunan (IMB).
Didalam pengaturan Koefisien Dasar Hijau yang bersifat pembangunan privat ini, arahan untuk setiap kecamatan biasanya dibagi menjadi beberapa jenis peruntukan, yaitu: Kavling Rumah Tinggal; Kawasan Perumahan; Kawasan Perdagangan, Jasa dan Komersial; Kavling Industri dan Kawasan Industri.
Untuk mencapai pembangunan kota yang berwawasan lingkungan maka diperlukan rencana pembangunan ruang terbuka hijau kota yang terpadu dan terintegrasi dengan rencana tata ruang kota yang ada. Rencana pembangunan RTH didasarkan pada klasifikasi dan jenis RTH kota yang telah ditetapkan. Disamping itu untuk besaran atau luasan rencana pembangunan RTH untuk masing-masing jenis RTH perlu di diketahui juga kondisi eksisting masing-masing jenis RTH yang ada pada saat ini.
Sebagai contoh, kota Bogor saat ini telah memiliki RTH Kebun Raya dengan luas 72,12 Ha (0,61%), dalam rencana pembangunan RTH tidak ada penambahan luasan, sehingga untuk Kebun Raya luasan RTHnya tetap. Demikian pula Hutan Kota yang ada tidak ada penambahan luasan, tetapi perlu peningkatan kualitas RTHnya. Sedangkan untuk Jalur Hijau Jalan, saat ini luasan hijaunya 138,30 Ha (1,17%) dalam rencana sampai tahun 2025 ditargetkan menjadi 699,42 Ha (5,90%).
Demikian pula Jalur Hijau SUTT kondisi saat ini luasan yang ada 14,36 Ha (0,12%) dalam rencana pembangunan RTH ditargetkan menjadi 249,43 Ha (2,10%). Untuk meningkatkan kualitas visual maupun ekologi kota maka perlu penambahan luasan RTH Pertamanan Kota Bogor, yang semula 89,86 Ha (1,29%) menjadi 242,93 Ha (2,05%).
Jalur hijau sungai yang seharusnya menjadi kawasan lindung saat ini telah banyak diokupasi menjadi pemukiman dan fungsi bangunan lainnya. Oleh karena itu didalam pembangunan RTH perlu mengembalikan fungsi jalur hijau sungai sebagai daerah alami untuk mendukung ekosistem kota. Luasan jalur hijau sungai yang saat ini 181,79 Ha (1,53%) dalam rencana ditargetkan menjadi 832,46 Ha (7,02%).
Ruang terbuka hijau yang akan banyak berkurang karena adanya pembangunan kota adalah Kawasan Hijau Kota, yang saat ini masih berupa tegalan, kebun dan bentuk pertanian kota lainnya.
Kawasan hijau kota sebagian besar dimiliki oleh masyarakat dan swasta. Perubahan kawasan hijau kota menjadi kawasan terbangun tetap harus dikendalikan agar target RTH kota tetap dapat tercapai. Pengendalian RTH kota diatur dalam Peraturan Pemerintah Daerah dengan menerapkan besaran Koefisien Dasar Hijau (KDH) dalam memperoleh Ijin Membangun Bangunan (IMB).
Sumber:
http://trtb.pemkomedan.go.id/artikel-913-konsep-pembangunan-kota-berwawasan-lingkungan-.html
9:05 AM | Labels: ARCH | 0 Comments
Arsitektur Ramah Lingkungan
Arsitektur ramah lingkungan,
yang juga merupakan arsitektur hijau, mencakup keselarasan antara manusia dan
lingkungan alamnya. Arsitektur hijau mengandung juga dimensi lain seperti
waktu, lingkungan alam, sosio-kultural, ruang, serta teknik bangunan. Hal ini
menunjukkan bahwa arsitektur hijau bersifat kompleks, padat dan vital dibanding
dengan arsitektur pada umumnya.
Green architecture atau Arsitektur
hijau didefinisikan sebagai sebuah istilah yang menggambarkan
tentang ekonomi, hemat energi, ramah lingkungan, dan dapat dikembangkan menjadi
pembangunan berkesinambungan.
Konsep bangunan ramah lingkungan,
membatasi lahan terbangun, layout sederhana, ruang mengalir, kualitas bangunan
bermutu, efisiensi bahan, dan material ramah lingkungan. Atap-atap bangunan
dikembangkan menjadi taman atap (roof garden, green roof) yang memiliki nilai
ekologis tinggi (suhu udara turun, pencemaran berkurang, ruang hijau
bertambah).
Pemanfaatan
material bekas atau sisa untuk bahan renovasi bangunan juga dapat menghasilkan
bangunan yang indah dan fungsional. Kusen, daun pintu atau jendela, kaca,
teraso, hingga tangga dan pagar besi bekas masih bisa dirapikan, diberi
sentuhan baru, dan dipakai ulang yang dapat memberikan suasana baru pada
bangunan. Lebih murah dan tetap kuat.Material ramah lingkungan memiliki kriteria sebagai berikut;
1.
Tidak beracun, sebelum maupun sesudah digunakan
2.
Dalam proses pembuatannya tidak memproduksi zat-zat berbahaya bagi
lingkungan
3.
Dapat menghubungkan kita dengan alam, dalam arti kita makin dekat
dengan alam karena kesan alami dari material tersebut (misalnya bata
mengingatkan kita pada tanah, kayu pada pepohonan)
4.
Bisa didapatkan dengan mudah dan dekat (tidak memerlukan ongkos
atau proses memindahkan yang besar, karena menghemat energi bbm untuk
memindahkan material tersebut ke lokasi pembangunan)
5.
Bahan material yang dapat terurai dengan mudah secara alami
1. Batu bata
2. Semen
3. Batu alam
4. Keramik lokal
5.
Kayu
Perpustakaan UI
Lokasi
: Universitas Indonesia
Luas
bangunan : 30.000m2 atau 3 hektar
Jumlah
lantai : 8 lantai
Proyek ini
merupakan pengembangan dari perpustakaan pusat yang dibangun pada tahun
1986-1987, didanai oleh pemerintah dan industri dengan anggaran sekitar Rp100
miliar, yang dibangun diarea seluas 3 hektar dengan 8 lantai, yang dirancang
berdiri di atas lanskap bukit buatan dan terletak di depan Danau Kenanga yang
ditumbuhi pepohonan besar berusia 30 tahun akan menambah keindahan bagi
perpustakaan tersebut sehingga akan tercipta suasana yang lebih nyaman.
Bangunan
perpustakaan yang akan menjadi iconic atau landmark ini, mempunyai konsep
sustanable building yang ramah lingkungan (eco friendly), bahwa kebutuhan
energi menggunakan sumber energi terbarukan, yakni energi matahari (solar
energy), maka nantinya di dalam gedung tidak diperbolehkan menggunakan plastik
dalam bentuk apa pun. Nanti semua kebutuhan plastik akan diganti dengan kertas
atau bahan lain. Bangunan ini juga didesain bebas asap rokok, hemat listrik,
air dan kertas.
Perpustakaan ini
mampu menampung sekitar 10.000 orang pengunjung dalam waktu bersamaan atau
sekitar 20.000 orang per hari. Koleksi buku di dalamnya akan menampung 3-5 juta
judul buku. Sistem IT mutakhir juga akan melengkapi perpustakaan tersebut
sehingga memungkinkan pengunjung leluasa menikmati sumber informasi elektronik
seperti e-book, e-journal dan lain-lain.
Konstruksi
- Model bangunan menghadirkan bangunan masa depan dengan mengambil sisi danau sebagai orientasi perancangan. Penggunaan bukit buatan sebagai potensi pemanfaatan atap untuk fungsi penghijauan. Sedangkan pencahayaan alam dilakukan melalui beberapa skylight.
- Di balik gundukan rerumputan hijau terdapat 5 bangunan tinggi yang menjulang hingga beberapa ratus meter berisikan ruangan-ruangan kosong yang disiapkan sebagai ruang utama perpustakaan UI.
- Di punggung bukit bangunan di timbun tanah dan ditanami rerumputan yang berguna sebagai pendingin suhu ruangan yang ada didalamnya, hingga dapat mereduksi fungsi alat pendingin udara sampai 15 persen.
- Di antara punggung rerumputan itu terdapat jaringan-jaringan selokan yang di sampingnya terdapat kaca tebal bening selebar 50 sentimeter. Selokan itu untuk mengalirkan air hujan ke tanah resapan, sedangkan fungsi kaca sebagai sistem pencahayaan.
- Interior bangunannya didesain terbuka dan menyambung antara satu ruang dan ruang yang lain melalui sistem void. Dengan begitu, penggunaan sirkulasi udara alam menjadi maksimal.
- Penggunaan energi matahari dilakukan melalui solar cell yang dipasang di atap bangunan.
- Guna memenuhi standar ramah lingkungan, bangunan juga dilengkapi sistem pengolahan limbah. Karena itu, air buangan toilet dapat digunakan untuk menyiram di punggung bangunan. Dengan diproses terlebih dahulu melalui pengolahan limbah atau sewage treatment plant (STP).
- Terdiri delapan lantai,
- Lantai dasar berisi pusat kegiatan dan bisnis mahasiswa yang terdiri toko buku, toko cenderamata, ruang internet, serta ruang musik dan TV. Ada juga restoran dan kafe, pusat kebugaran, ruang pertemuan, ruang pameran, dan bank.
- Lantai 2 hingga 6 akan dilengkapi fasilitas seperti ruang tamu, ruang pelayanan umum dan koleksi, ruang baca, ruang teknologi informasi, serta unit pelayanan teknis.
- Sedangkan di lantai 7 terdapat ruang sidang dan ruang diskusi. Gedung perpustakaan juga dilengkapi plaza dan ruang pertemuan yang menjorok ke danau.
- Gedung akan menggunakan panel surya sebagai sumber energinya.
- Keunikan yang lain, nanti akan terdapat berbagai huruf aksara dari seluruh dunia yang akan ditulis di kaca gedung sebagai dinding.
Finishing Bahan
Bangunan
- Interior menggunakan batu paliman palemo.
- Eksterior bangunan tersebut menggunakan batu alam andesit.
Bahan bangunan
dari batuan ini (batu alam andesit untuk eksterior dan batu paliman palemo
untuk interior) bersifat bebas pemeliharaan (maintenance free) dan tidak perlu
dicat. Batuan ini diperoleh dari Sukabumi.
Untuk melengkapi
desain ramah lingkungan, sejumlah pohon besar berusia 30 tahunan berdiameter
lebih dari 100 sentimeter sengaja tidak ditebang saat pembangunan gedung itu.
Keindahan menjadi lengkap karena gedung itu mengeksplorasi secara maksimal
keindahan tepi danau yang asri, sejuk, dan, teduh.
Sumber:
8:49 AM | Labels: ARCH | 0 Comments
Subscribe to:
Posts (Atom)
Powered by Blogger.




















